Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan para shahabat beliau.
Jika masalahnya memang seperti yang Anda ceritakan, maka nenek Anda tidaklah berdosa karena mendahulukan anaknya daripada ibunya itu. Sebab, ia berarti mendahulukan orang yang lebih lemah dan membutuhkan, karena masih kecil. Anak kecil tentu berbeda dengan orang dewasa yang mampu menahan lapar dan bisa mencari makanan. Namun demikian, ia berdosa karena telah berbohong. Seharusnya, ia bersikap jujur kepada ibunya, bahwa ia tidak memiliki makanan kecuali makanan yang ia simpan untuk anaknya itu. Tapi kita berdoa semoga Allah mengampuninya, karena penyesalan dan kesedihan yang ia tunjukkan itu. Karena itu adalah bentuk tobat.
Sebuah hadits diriwayatkan dari Ibnu Mas`ud
bahwa Nabi
bersabda, "Penyesalan adalah tobat." [HR. Ibnu Majah, Al-Hakim, dan Ahmad]
Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari `Aisyah
, disebutkan bahwa Nabi
bersabda kepadanya, "Jika engkau melakukan dosa, maka minta ampunlah kepada Allah. Sesungguhnya bentuk tobat dari dosa adalah penyesalan dan istighfar." [HR. Al-Baihaqi dalam kita Syu`abul Iman]
Hendaklah nenek Anda beristighfar serta memperbanyak doa untuk ibunya, karena ini termasuk bentuk bakti kepada orang tua. Bahkan kebutuhan ibunya terhadap doa setelah meninggal dunia lebih besar daripada kebutuhannya terhadap makanan dan minuman ketika di dunia.
Wallahu a`lam.