Bagaimana Melindungi Diri (Bag.2)

17/06/2026| IslamWeb

Sarana untuk menjaga diri lainnya—dengan izin Allah—ialah doa, karena Allah berfirman (yang artinya): “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagi kalian...” [QS. Ghafir: 60]. Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention juga bersabda: “Kehati-hatian tidak berpengaruh apapun terhadap takdir, dan sungguh doa itu bermanfaat atas takdir yang telah turun dan yang belum turun, dan sungguh bencana itu benar-benar turun lalu dihadapi oleh doa sehingga keduanya saling berseteru hingga Hari Kiamat.” Ibnu Katsir meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention mengutus Hudzaifah ke tengah-tengah orang kafir (untuk memata-matai mereka) pada waktu perang Ahzab, beliau berdoa untuknya sebagai berikut: “Ya Allah, jagalah ia dari depan dan belakangnya, dan dari samping kiri dan kanannya supaya ia tidak dicelakai oleh apapun.”

Kisah anak muda Ukhdud yang ingin disingkirkan dan dibunuh oleh Dzu Nuwas lalu membawanya ke puncak gunung untuk dilemparkan dari atasnya, kemudian anak muda itupun berdoa: “Ya Allah, lindungilah aku dari mereka dengan apapun yang Engkau kehendaki.” Maka gunung itupun bergoncang dahsyat sehingga orang-orang kafir yang menggiringnya mati semua sementara anak itu selamat. Lalu ia dibawa lagi oleh yang lainnya ke tengah lautan, kemudian ia berdoa lagi: “Ya Allah, lindungilah aku dari mereka dengan apapun yang Engkau kehendaki.” Maka perahu itupun tenggelam dan seluruh orang yang ada di dalamnya, sementara anak muda itu selamat. Demikianlah Allah menjaga dan membela para wali-Nya.

Dikisahkan bahwa Al-Hajjaj memanggil Al-Hasan Al-Bashri ketika beliau mengingkari beberapa kemungkaran yang dilakukan Al-Hajjaj dan menyuruhnya melakukan kebaikan. Al-Hajjaj ingin membunuhnya. Lalu Al-Hasan Al-Bashri berdoa dengan sebuah doa yang menjadikannya dijaga oleh Allah. Ia berdoa: “Wahai Tuhanku Sang Pemberi nikmat, Penolongku di saat susahku, baliklah kemarahannya kepadaku menjadi kesejukan dan kedamaian sebagaimana engkau membalikkan api menjadi sejuk dan damai bagi Ibrahîm.” Maka Allah mengabulkan doa Al-Hasan  may  Allaah  be  pleased  with  them dan menjaganya serta menghinakan Al-Hajjaj.

Abu Hurairah berkata: “Barang siapa dikaruniai rasa syukur ia tidak akan terhalangi dari tambahan (rezeki), barang siapa dikaruniai doa ia tidak akan terhalangi dari pengabulan, barang siapa dikaruniai taubat ia tidak akan terhalangi dari ampunan, barang siapa dikaruniai kesabaran ia tidak akan terhalangi dari ganjaran (pahala), dan barang siapa dikaruniai istighfar ia tidak akan terhalangi dari maghfirah (ampunan).” Nabi Yunus berdoa di dalam perut ikan, di saat beliau berada di dalam tiga lapis kegelapan (gelapnya malam, gelapnya lautan dan gelapnya perut ikan): “Tiada Tuhan (yang patut disembah) selain Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku telah menzhalimi diriku.” [QS. Al-Anbiya': 87]. Maka Allah mengabulkan doa beliau dan menyelamatkannya dari kedukaan itu: “Maka Kami perkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.”  [QS. Al-Anbiya': 88].

Sarana menjaga diri lainnya—dengan izin Allah—ialah shalat. Yang paling besar dan paling agung tentu saja shalat lima waktu, karena shalat lima waktu adalah penghapus bagi dosa-dosa yang dilakukan di sela-selanya selama dihindari dosa-dosa besar. Apapun musibah yang menimpa seseorang adalah karena perbuatannya sendiri. Maka jika ia selamat dari maksiat maka ia akan selamat dari musibah. Di antara shalat yang paling penting ialah shalat Shubuh, karena ia adalah milik khusus ahli iman. Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: “Shalat paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Dan kalaulah mereka mengetahui pahala pada kedua shalat tersebut niscaya mereka akan menghadirinya walaupun dengan merangkak.”  

Shalat adalah penjaga bagi pelakunya di malam maupun siang hari. Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: “Barang siapa shalat Shubuh—(dalam riwayat lain: dengan berjamaah). Maka ia berada dalam dzimmah Allah sampai sore hari.” Dzimmah di sini berarti perlindungan dan tanggungan Allah, sehingga ia tidak akan disentuh oleh gangguan apapun. Beliau juga bersabda: “Barang siapa shalat Shubuh dengan berjamaah maka ia seolah-olah mendirikan malam (shalat malam) sepenuhnya.” Dan siapa yang shalat malam maka ia akan terjaga malam harinya.

Sarana menjaga diri lainnya ialah mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah-ibadah nafilah (sunnah dan tambahan) seperti shalat-shalat rawatib yang dilakukan sebelum dan sesudah shalat fardhu yang jumlahnya 12 rakaat, kemudian shalat malam dan ibadah-ibadah lainnya. Dalam hadits disebutkan: Dan hamba-Ku terus-menerus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnat hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka Aku menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, menjadi pendengarannya yang denganya ia mendengar, menjadi tangannya yang dengannya ia memegang, menjadi kakinya yang dengannya ia berjalan...” Beliau juga bersabda tentang shalat malam: “Sesungguhnya ia adalah tradisi orang-orang shalih sebelum kalian, keridhaan bagi Tuhan kalian, pencegah dari maksiat, ampunan bagi dosa dan pengusir penyakit.”

Sarana lainnya adalah shalat Dhuha, empat rakaat, dilaksanakan di awal siang. Allah berfirman dalam hadits Qudsi: “Wahai anak Adam, jadikanlah untukku empat rakaat di awal siang maka aku akan mencukupimu di akhirnya.”

Ibnu Katsir mengisahkan bahwa seorang laki-laki menyewa seekor baglah (peranakan kuda dan keledai) di negeri Syâm. Ia berkata kepada pemiliknya: “Kami akan berangkat dari tempat ini ke tempat ini.” Namun ia menggunakan baglah itu menyebrangi lembah yang tak pernah dilalui orang, dan ternyata lembah itu penuh dengan kepala-kepala manusia. Di sana, seorang perampok berkata: “Tahukah kamu siapa kepala-kepala manusia itu?” Ia menjawab: “Tidak.” perampok itu berkata: “Mereka semua, aku yang membunuhnya, dan sungguh aku akan membunuhmu sekarang.” Ia berkata: “Ambil saja baglahku dan biarkan aku pergi.” Perampok itu berkata: “Tak ada jalan lain selain membunuhmu.” Ia berkata: “Kalau begitu biarkan aku shalat dua rakaat saja.” Perampok itu berkata: “Segera!” Ketika orang tersebut melakukan takbiratul ihram ia lupa seluruh Al-Quran karena saking takutnya. Ia tidak mengingat apapun selain firman Allah—Subhânahu wata`âlâ—(yang artinya): “Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan...” [QS. An-Naml: 62]. Ia pun membaca ayat itu berkali-kali, dan tiba-tiba datanglah seorang penunggang kuda lalu memanah perampok itu hingga tewas. Orang tersebut bertanya: “Siapa Anda?” Penunggang kuda itu menjawab: “Aku utusan dari Sang Pengabul doa orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan Yang menghilangkan kesulitan.”

Sebab lainnya—dengan izin Allah—ialah sedekah. Rasulullah  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda kepada Mu`adz: “Maukah aku tunjukkan kepadamu pintu-pintu kebaikan: Puasa itu adalah perisai, sedekah itu memadamkan (menghapus) kesalahan sebagaimana air memadamkan api.” Beliau juga bersabda: “Sedekah memadamkan kemurkaan Rabb.” Beliau juga bersabda: “Sedekah mencegah kematian yang buruk.” Beliau juga bersabda: “Obatilah orang-orang sakit kalian dengan sedekah.” Maka sedekah adalah penjagaan bagi keselamatan jiwa, seperti seorang penderita kanker yang bersedekah lalu ia sembuh. Sedekah juga penjaga bagi harta, penjaga bagi keselamatan badan, penjaga bagi anak-anak.

Seorang laki-laki menyedekahkan sepertiga hartanya, mengunakan sepertiganya dan menanam sepertiganya. Maka Allah menjaga hartanya lantaran sedekah itu, karena seluruh persawahan rusak kecuali sawahnya. Allah menurunkan hujan ke atasnya (khusus).

Abul Harits Al-Ausi bersedekah kepada seorang fakir sehingga Allah menjaga keselamatan agamanya. Allah memberinya petunjuk setelah kesesatan dan kelurusan setelah penyimpangan.

Seorang perempuan bersedekah dengan sepotong roti, lalu Allah menjaga anaknya dari singa, karena ia meninggalkan anaknya ketika singa itu akan menerkamnya.

Secara umum, seluruh amal shalih adalah penjaga bagi seorang hamba dengan izin Allah. Nabi  may  Allaah  exalt  his  mention bersabda: “Jagalah (perintah dan larangan) Allah maka Allah akan menjagamu. Jagalah (perintah dan larangan) Allah maka engkau akan mendapatkan Dia bersamamu.”   Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, jagalah agama kami yang merupakan penjaga bagi segala urusan kami, jagalah (urusan) dunia kami yang padanya kehidupan kami, jagalah (urusan) Akhirat kami yang padanya tempat kambali kami, jadikanlah kehidupan sebagai tambahan kebaikan bagi kami dan kematian itu sebagai tempat istirahat kami dari keburukan. Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan Engkaulah sebaik-baik penyayang. Semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Nabi kami Muhammad, dan kepada keluarga serta shahabat beliau seluruhnya.  

  

 

 

www.islamweb.net