
Nabi
pernah ditanya tentang siapakah manusia yang paling keras ujiannya. Beliau menjawab: “Para nabi kemudian yang derajat (iman dan taqwa)nya di bawah mereka, kemudian di bawah mereka lagi (dan seterusnya). Seorang manusia akan diuji berdasarkan kualitas beragamanya; jika ia memiliki kualitas beragama yang tangguh dan teguh maka semakin keras ujian yang dihadapinya, dan jika kualitas beragamanya lemah maka ia juga akan diuji sesuai kadar beragamanya.” Dan semakin besar ujian yang dihadapi seseorang maka semakin besar pula pahala yang diraihnya. Nabi
bersabda: “Sesungguhnya pahala yang besar itu bersama bala (ujian) yang besar, dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum Dia akan menguji mereka. Lalu barang siapa yang ridha (menerima ujian itu) maka ia akan mendapat keridhaan (Allah) dan barang siapa yang marah maka ia juga akan mendapat kemurkaan.”
Jalan yang dilalui oleh ahlul ibtila’ (mereka yang mendapat ujian) penuh dengan hal-hal yang tidak menyenangkan, supaya mereka bersih di dunia dan selamat di Akhirat. Oleh karenanya Nabi
bersabda: “(Jalan menuju) Surga dipenuhi oleh hal-hal yang tidak menyenangkan.” Di antara yang dijadikan oleh Allah sebagai ujian bagi kita ialah musuh-musuh dari bangsa jin, manusia dan bintang. Gangguan mereka dapat terjadi pada jiwa, harta dan keluarga. Mereka mengganggu jiwa dengan cemoohan, pukulan bahkan pembunuhan, mengganggu harta dengan mengambilnya dengan jalan yang tidak benar dan menggunakannya pada hal-hal yang tidak benar, mengganggu keluarga dengan tuduhan buruk, sihir, penyakit `ain dan sebagainya.
Gangguan mereka cukup kuat, terjadi terus-menerus dan cukup berpengaruh; memisahkan antara seseorang dan anggota badannya sehingga menjadi cacat, tangan dan kakinya pincang, pendengaran dan penglihatannya hilang. Juga memisahkan antara manusia dan hartanya sehingga menjadi bangkrut dan terpaksa meminta-minta kepada manusia sementara mereka tidak memberi bantuannya. Dan juga memisahkan antara seseorang dan keluarganya dengan cara melempar tuduhan buruk, sihir dan `ain.
Mereka memiliki cara-cara terselubung untuk mengganggu dan menyakiti orang lain. Seorang tidak mengetahuinya sampai ia terjerumus ke dalam gangguan itu. Oleh karena itu supaya kita terjaga dan selamat dari gangguan dan ujian itu kita harus komitmen melaksanakan cara-cara yang syar`i untuk menjaga dan melindungi diri dari gangguan musuh-musuh tersebut. Allah telah memerintahkan kita untuk menjaga diri dengan berbagai macam cara. Allah (yang artinya): “Dan janganlah kalian menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan...” [QS. Al-Baqarah: 195] “Dan janganlah kalian membunuh diri kalian...” [QS. An-Nisa': 29].
Allah juga menghukum orang yang membunuh dirinya dengan Neraka. Dalam hadits disebutkan: “Seorang laki-laki menderita luka yang membuatnya kesakitan. Lalu ia memotong tangannya (karena tidak tahan sakit) sehingga darah tak berhenti mengalir sampai ia meninggal. Kemudian Allah berfirman: ‘Hamba-Ku mendahului Aku dengan membunuh dirinya maka Aku haramkan atasnya Surga.”
Nabi
pernah memperingatkan tiga orang, di mana salah satu dari mereka berkata: “Aku akan terus bangun untuk shalat malam dan tidak akan pernah tidur.” Satunya lagi berkata: “Aku akan selalu berpuasa (setiap hari) selama-lamanya dan tak akan pernah tidak berpuasa.” Satunya lagi berkata: “Aku tidak akan pernah menikahi perempuan.” Perbuatan-perbuatan ini tentu saja sangat berat bagi jiwa manusia. Lalu Nabi
bersabda: “Sesungguhnya akulah yang paling takut dan paling bertaqwa kepada Allah di antara kalian, tetapi aku mendirikan shalat (pada sebagian malam) dan tidur (pada sebagian yang lainnya), aku berpuasa dan juga tidak berpuasa, dan aku menikahi perempuan-perempuan. Barang siapa tidak menyukai sunnahku maka ia bukan dari (Umat)ku.”
Beliau juga bersabda kepada Abullâh Ibn `Amr Ibnul `Âsh yang telah memfokuskan diri untuk beribadah sampai-sampai ia meninggalkan hak keluarganya: “Sesungguhnya dirimu memiliki hak dari dirimu, keluargamu memiliki hak dari dirimu, istrimu memiliki hak dari dirimu, maka berikanlah setiap berhak itu haknya masing-masing.”
Sarana-Sarana Syar`i Untuk Melindungi Diri
Sarana yang syar`i untuk menjaga keselamatan diri ialah menjalankan ketaatan. Nabi
bersabda: “Jagalah (perintah dan larangan) Allah niscaya Allah akan menjagamu.” Diantaranya ada yang berupa bacaan Al-Quran, bacaan dzikir-dzikir, doa, pelaksanaan shalat, sedekah dan makan, semua itu adalah sarana-sarana harian yang harus dilakukan oleh hamba setiap hari untuk melindungi dirinya di siang dan malam hari. Dengan melakukan sarana-sarana tersebut di siang dan malam hari ia telah melindungi umur dan amalnya, melindungi dunianya, melindungi amalnya, melindungi Akhiratnya sehingga ia berbahagia di dunia dan Akhirat.
Adapun sarana melindungi diri dengan bacaan Al-Quran diantaranya:
* Ayat Al-Kursi (yang artinya): “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Mahahidup lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tiada mengantuk dan tiada tidur...” [QS. Al-Baqarah: 255]. Ayat Al-Kursi adalah ayat yang paling agung di dalam Kitab Allah. Nabi
bersabda kepada Ubayy Ibn Ka`b: “Ayat Al-Quran manakah yang paling agung?” Ubay menjawab: “Allah itu tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang Mahahidup lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya).” Lalu Rasulullah
menepuk dada Ubay dan bersabda: “Selamat atas ilmumu wahai Abul Mundzir.”
Ketika ditanya oleh Umar: “Ayat Al-Quran yang manakah yang paling agung?” Ibnu Mas`ûd menjawab: “Ayat Al-Kursi.” Ayat ini adalah pelindung bagi seorang hamba di dunia, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits, bahwa ketika Abu Hurairah sedang menjaga zakat fitrah ia dihampiri oleh Syetan sebanyak tiga kali (untuk mencuri makanan). Ketika Abu Hurairah menangkapnya dan hendak menggiringnya ke hadapan Rasulullah, Syetan berkata: “Aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat yang dengannya Allah memberi manfaat kepadamu: Jika engkau akan tidur maka bacalah ayat Al-Kursi, karena dengan demikian engkau akan selalu dijaga oleh penjaga dari Allah dan Syetan tidak akan mendekatimu.”
Selain itu, ayat Al-Kursi juga merupakan pelindung bagi seorang hamba kelak di Akhirat. Dalam hadits disebutkan: “Barang siapa sellau membaca ayat Al-Kursi setiap selesai shalat maka tidak jarak antara dia dan Surga kecuali sampai ia meninggal.”
Atas dasar ini, ayat Al-Kursi dibaca setiap hari sebanyak enam kali: sekali ketika akan tidur, dan lima kali, setiap selesai shalat fardhu.
* Ayat Al-Quran pelindung yang lainnya ialah dua ayat terakhir surat Al-Baqarah (yang artinya): “Rasul telah beriman kepada Al-Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman...” [QS. Al-Baqarah: 285-286]. Dalam hadits disebutkan: “Barang siapa membaca kedua ayat itu pada malam hari maka keduanya akan mencukupinya”, yakni mencukupinya dari segala hal, atau mencukupinya (melindunginya) dari gangguan Syetan, atau mencukupinya (sebagai ganti) dari shalat malam, atau mencukupinya (melindunginya) dari segala keburukan.
* Ayat-ayat lainnya ialah surat Al-Ikhlas: “Qul huwalLahu ahad (Katakanlah bahwa Allah itu esa)...” [QS. Al-Ikhlash: 1-4]. Surat Al-Ikhlas adalah sepertiga Al-Quran. Seorang shahabat sangat mencintai surat ini sehingga ia selalu membacanya setiap rakaat shalat, sehingga Allah mencintainya dan memasukkannya ke dalam Surga. Barang siapa membacanya sepuluh kali maka Allah membangungkan untuknya sebuah rumah di Surga. Selain itu, dibaca pula bersama Al-Mu`awidzatain (Al-Falaq dan An-Nas). Tiada ucapah permohonan perlindungan (kepada Allah) yang lebih bagus dari kedua surat tersebut.
Diriwayatkan dari Mu`adz Ibn `Abdullah Ibn Abihi, bahwa Rasulullah
bersabda kepadanya: “Ucapkanlah!” Mu`adz menjawab: “Apa yang harus saya ucapakan?” Beliau bersabda: “Qul huwaLlahu ahad dan Al-Mu`awidzatain setiap petang dan pagi hari sebanyak tiga kali, niscaya engkau akan dicukupkan dari segala sesuatu.” Yakni, mencukupkan (melindungi) Anda dari gangguan dan marabahaya. Anda juga akan dijaga dengannya di malam dan siang hari, di waktu safar maupun mukim, di waktu tidur maupun jaga, dan di segala kondisi.
Diriwayatkan dari Abdullah Ibn Khubaib, ia berkata: Rasulullah
bersabda kepadaku: “Ucapkanlah!” namun aku tidak mengucapkan apapun. Beliau bersabda lagi: “Ucapkanlah!” namun aku tidak mengucapkan apapun. Kemudian beliau bersabda: “Qul huwaLlahu ahad dan Al-Mu`awidzatain setiap petang dan pagi hari sebanyak tiga kali, niscaya engkau akan dicukupkan dari segala sesuatu.”
Rasulullah
juga setiapkali hendak tidur beliau mengumpulkan kedua telapak tangan lalu membacakan padanya “Qul huwaLlahu ahad dan Al-Mu`awidzatain” sebanyak tiga kali, kemudian beliau mengusapkannya ke seluruh anggota badan yang bisa beliau usapkan.
Dengan demikian, ketiga surat ini dibaca secanyak 12 kali sehari semalam: tiga kali pada pagi hari, tiga kali pada sore hari dan tiga kali sebelum tidur, satu kali setelah Zhuhur, satu kali setelah Ashar dan satu kali setelah Isya.
Adapun sarana melindungi diri dengan dzikir, hal ini berdasarkan firman Allah (yang artinya): “Karena itu, berdzikirlah kalian kepada-Ku niscaya Aku akan menyebut nama kalian, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengingkari (nikmat)-Ku.” [QS. Al-Baqarah: 152]. Allah juga berfirman dalam sebuah hadits qudsi: “Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku terhadapku dan Aku selalu bersamanya ketika ia berdzikir (menyebut dan mengingat)-Ku. Jika ia berdzikir mengingat-Ku di dalam dirinya maka Aku pun menyebutnya di dalam diriku, dan jika ia berdzikir (menyebut dan mengingat)-Ku di tengah keramaian maka Aku pun menyebut namanya di tengah kalayak (para Malaikat) yang lebih baik darinya.”
Di antara dzikir-dzikir yang melindungi, dangan izin Allah ialah:
* Membaca: “Tiada tuhan (yang layak disembah) selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan dan pujian. Dialah yang Mahakuasa atas segala sesuatu”, sebanyak seratus kali dalam sehari dan semalam. Dalam sebuah hadits disebutkan: “Barang siapa mengucap: ‘Tiada tuhan (yang layak disembah) selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan dan pujian. Dialah yang Mahakuasa atas segala sesuatu’, seratus kali dalam sehari semalam maka seolah-olah ia telah memerdekakan sepuluh budak, dan dicatat baginya seratus sebaikan, dihapus baginya seratus kesalahan, dan kalimat tersebut menjadi pelindung baginya dari Syetan pada hari itu sampai sampai sore hati. Dan tidak ada orang yang melakukan amalan yang lebih baik darinya kecuali orang yang mengamalkan lebih banyak dari dia.”
* Juga membaca: “Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan melainkan karena Allah”, setiapkali keluar rumah. Nabi
bersabda: “Barang siapa membaca—ketika keluar rumah—: ‘Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan melainkan karena Allah’ maka dikatakanlah kepadanya: engkau mendapat petunjuk, dicukupkan dan dijaga, kemudian Syetan pun menjauhinya. Syetan itu berkata: ‘Bagaimana aku bisa menggoda seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga?”
* Juga membaca: “Aku memohon perlindungan kepada Allah Yang Mahaagung, berkat wajah-Nya yang mulia dan kekuasaan-Nya yang kekal, dari gangguan Syetan yang terkutuk”, ketika memasuki masjid. Jika ia membacanya, Syetan berkata: “Ia terjaga dariku sepanjang hari ini.”
* Juga membaca: “Dengan nama Allah yang bersama nama-Nya, tiada sesuatupun yang dapat mendatangkan bahaya baik di bumi maupun di langit maupun, dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui”, tiga kali di waktu pagi dan tiga kali di waktu sore. Nabi
bersabda: “Tiada seorang hambapun yang membaca pada setiap pagi dan sore hari: (Dengan nama Allah yang bersama nama-Nya, tiada sesuatupun yang dapat mendatangkan bahaya baik di bumi maupun di langit maupun, dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui) sebanyak tiga kali, melainkan tak ada sesuatu pun yang akan membahayakannya.”
* Juga mengucap: “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan segala yang Dia ciptakan.” Nabi
bersabda: “Barang siapa singgah di suatu tempat lalu membaca: (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan segala yang Dia ciptakan) maka tidak ada sesuatupun yang dapat membahayakannya selama di tempat itu sampai ia beranjak darinya.”
Seorang lelaki menghadap kepada Nabi
dan berkata: “Wahai Rasulullah, apakah ini yang aku temui akibat kalajengking yang menyengatku tadi malam?” Lalu beliau bersabda: “Seandainya engkau membaca pada sore hari: (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan segala yang Dia ciptakan) maka kalajengking itu tidak akan membahayakanmu.”
Dikisahkan bahwa seorang laki-laki tidur di bawah sebuah pohon dan sebelum tidur ia mengucap: (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan segala yang Dia ciptakan). Di sampingnya ternyata terdapat seekor ular, dan laki-laki itu dijaga darinya, dan ular itu tidak sedikitpun mengganggunya. Tiba-tiba datanglah seekor kalajengking lalu membunuh ular tersebut, kemudian si kalajengking kembali ke sarangnya dan sedikitpun tidak mengganggu laki-laki itu, karena ketika ia singgah di tempat itu ia mengucap: (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan segala yang Dia ciptakan).